MERDEKA.COM. Teror terhadap lembaga survei tiba-tiba mencuat
selepas pemilihan presiden pada Rabu lalu. Hari ini, dua lembaga sigi
Jaring Suara Indonesia dan Poltracking mendapat teror dalam bentuk
berbeda.
Menurut Manajer Operasional Poltracking, Agung Baskoro,
pihaknya merasa tidak kapok dengan ancaman. Dia menyatakan, justru teror
itu sebagai bukti pekerjaannya dilihat orang.
"Selama ini kita
survei biasa-biasa saja. Ini kan kerja-kerja akademik dengan metodologi
yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya berpikir ini artinya pekerjaan
kita dilihat dan diakui," kata Agung kepada merdeka.com di kantor
Poltracking, Jalan Pangrango nomor 3A, Guntur, Jakarta, Jumat (11/7).
Agung
menyatakan, pimpinan Poltracking, Hanta Yuda, sudah mengetahui ihwal
kabar itu. Meski begitu, mereka mengaku hanya saling kontak melalui
telepon.
Agung menambahkan, selepas mendapat teror pihaknya tidak
menambah penjagaan apapun. Tetapi, mereka mengaku bakal menjalin
komunikasi intensif dengan pihak Polsek Metro Setiabudi.
Sebelumnya,
kantor Poltracking Indonesia yang terletak di Jalan Pangrango No.3A
Guntur, Setiabudi Jakarta Selatan mendapat ancaman teror. Sejak pukul
01.00 WIB, Jumat (11/7) dini hari, telepon kantor terus berdering.
"Penjaga
kantor melihat ada dua orang di depan pagar gerbang kantor pada saat
telepon kantor secara bersamaan berdering. Telepon berlanjut sampai
sekitar pukul 04.00 WIB dengan jeda beberapa kali. Telepon kembali
berdering hingga empat kali pada pukul 08.30 WIB," kata Manager PR dan
Program Pol-Tracking Indonesia Agung Baskoro kepada merdeka.com.
No comments:
Post a Comment