Blogroll

https://pasarhots.blogspot.co.id/2018/02/pasang-banner-bisnis-murah.html

Monday, September 15, 2014

Kawasan Puncak makin terdesak fulus Arab & prostitusi

MERDEKA.COM. Udara sejuk wilayah Puncak Bogor, Jawa Barat tidak hanya mengundang warga DKI Jakarta berbondong-bondong datang tiap akhir pekan. Keindahan alam dan cuacanya yang sejuk juga terdengar hingga Timur Tengah.

Warga puncak biasa menyebut para warga Timur Tengah itu sebagai 'orang Arab'. Sebutan itu dipakai lantaran mereka memiliki wajah khas, yaitu hidung besar mancung, berjenggot dan tentu memakai bahasa Arab.

Wilayah Cisarua, Puncak Bogor, tepatnya di sekitar Ciburial dan Warung Kaleng paling ramai disambangi orang Arab. Mulai kantor travel, minimarket, warung kelontong hingga tempat cukur rambut pasti memakai bahasa Arab.

Para pengusaha itu mengincar orang Arab agar mendatangi usahanya dan menerima fulus. Sebab, hanya segelintir warga Timur Tengah itu yang bisa memakai bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Peneliti dan pengamat Tata Ruang Institut Pertanian Bogor (IPB), Ernan Rustia mengatakan, masyarakat Puncak Bogor mengalami krisis identitas dengan masuknya wisatawan asing, terutama Timur Tengah.

"Masyarakat di kawasan Puncak menyadari situasi yang mereka hadapi, krisis identitas, bekerja sebagai penjaga vila yang identik dengan prostitusi dan persoalan sosial, belum lagi budaya Arab yang mulai masuk," jelas Erna.

Menjelang sore, aktivitas orang Arab makin menggila. Menyewa villa atau hotel, mereka keluar dengan mobil sewaan. Kebanyakan mereka memakai supir orang Indonesia yang siap mengantar ke mana saja.

Kehebohan orang Arab di dalam mobil tak segan dipertontonkan. Berteriak-teriak sambil melambai-lambaikan tangan ke luar sudah jadi pemandangan biasa. Lama-lama warga menganggapnya sebagai hal biasa.

Seorang warga bernama Zaenudin menceritakan, banyaknya warga Arab di wilayah Cibuarial dan Warung Kaleng tentu mendatangkan rezeki tersendiri. Kedatangan mereka pun sudah sejak lama dimulainya.

Efeknya, kata Zaenudin, banyak warga yang bisa berbahasa Arab. "Dari tukang ojek, supir mobil sampai anak-anak di sini bisa bahasa Arab," katanya Kamis lalu.

Sementara itu, seorang tukang ojek Yaya membenarkan hal tersebut. Namun, nyatanya tak semua orang Arab loyal menggelontorkan uang.

"Kalau yang baik dan nggak pelit pasti kita deketin," ujar Yaya.

Kehidupan orang Arab pada malam hari makin bergairah. Pasalnya, prostitusi Puncak yang menjual kemolekan wanita Parahyangan juga tak mau ketinggalan dalam meraup rezeki.

Hari ini merdeka.com akan coba membahas tingkah pola orang Arab di Puncak Bogor, Jawa Barat. Selamat membaca.

No comments:

Paling banyak dibaca