Blogroll

https://pasarhots.blogspot.co.id/2018/02/pasang-banner-bisnis-murah.html

Thursday, June 14, 2012

MY DIARY [004] Dendam Gagal Interview

http://3.bp.blogspot.com/-VSf6cmxImmc/T9mAV12J0rI/AAAAAAAAADQ/Yps9WTR9fdI/s1600/CEWEK+ZONA.gifAda seorang lelaki juga yang duduk bersama saya, pakaiannya rapi, tapi kulitnya kurang lebih dengan saya, walau kelihatan dia lebih hitam dengan kulit yang tidak terawat, namun dia memiliki tubuh yang berisi dan tegap layaknya orang yang sering fitnes. Agar suasana tidak tegang, saya coba menyapa orang tersebut, "Hai, dapat panggilan interview juga?". "Iya nih, mas juga ya?" jawabnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya bermaksud bersalaman denganku, "Namaku Andi", dia memperkenalkan diri padaku. Tangannya terasa sangat kasar, "Namaku Satorman, sudah lama mas tunggu di sini?" jawabku sambil melayangkan sebuah pertanyaan. "Ga juga, lebih cepat datangkan lebih cepat pulang, tuh di ruangan sebelah ada yang sedang diinterview". Kelihatannya orangnya ramah banget, dengan berbincang sedikit saja kami pun jadi akrab. Sambil menunggu kami pun terus melanjutkan pembicaraan kami. "Mas Andi asal mana?" "Saya asli Bandung, mas sendiri?" "Wah, kebetulan sekali, ayah saya juga orang Bandung, tapi ibu saya NTT, maklum bapak saya perantau". Banyak sekali yang kami bicarakan bahkan sampai bertukaran nomor hp. Dari pembicaraan ini lah saya baru tahu bahwa cari kerja itu susah, Andi menceritakan semua kisahnya padaku. Dia sudah 3 tahun menyandang gelar sarjana, tetapi tak satu pun pekerjaan yang layak dia dapatkan. Dia pernah menjadi cleaning service di sebuah restoran, tetapi dia dipecat hanya karna tidak sengaja memecahkan sebuah gelas minum. Setelah itu dia juga pernah menjadi tukang bangunan dan kuli angkut di pelabuhan. Ya, tak heran tangannya agak kasar. Bahkan dia pernah jadi kurir ganja demi bisa bertahan di dunia yang dia katakan fana ini. Dan sekarang ini, dia hanya bantu di kios temannya yang hanya menjual premium eceran dan melayani tambal ban. Tak sadar di sela pembicaraan kami, Vera sang resepsionis memasuki ruangan dan memanggil Andi untuk segera ke ruangan sebelah. Berpapasan itu juga saya melihat seorang pria yang berjalan melewati pintu, sepertinya dia baru keluar dari ruangan sebelah. Prediksi saya, dia adalah orang yang baru diinterview tadi, mukanya terlihat sedih dan seperti suram sekali, mungkin dia telah dikecewakan dengan hasil interview barusan. Tanpa Andi, ruangan ini menjadi sepi, saya hanya duduk terdiam dan merasa sedikit tegang. Saya coba menghibur diri agar tidak begitu tegang, saya semangati diri saya sendiri dan berkata dalam hati "Ya, setidaknya yang diinterview pertama sudah mungkin gagal, berarti saya punya peluang semakin besar".

- bersambung

Paling banyak dibaca