Blogroll

https://pasarhots.blogspot.co.id/2018/02/pasang-banner-bisnis-murah.html

Monday, July 14, 2014

Siarkan Piala Dunia 2014, VIVA rugi miliaran rupiah

MERDEKA.COM. Gelaran turnamen sepak bola sejagat berakhir sudah hari ini, Senin (14/7). Selama sebulan penuh masyarakat dunia dihibur dengan aksi seniman lapangan hijau ternama dalam mengolah si kulit bundar.
Rakyat Indonesia bisa menyaksikan pertandingan seru Piala Dunia berkat peran dua televisi di bawah naungan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Stasiun televisi antv dan tvOne memegang lisensi alias hak siar Piala Dunia 2014. Pertandingannya hampir selalu disaksikan setiap hari selama sebulan terakhir.
Sayangnya, kemeriahan Piala Dunia dikabarkan tidak menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi grup VIVA. Malah sebaliknya, perusahaan milik Bakrie ini disebut-sebut mengalami kerugian cukup besar karena minimnya iklan yang masuk ke kas perusahaan.
Untuk mendapat hak siar, VIVA harus menggelontorkan dana Rp 600 miliar. Persoalannya, besarnya dana yang dikeluarkan untuk mendapat lisensi Piala Dunia tidak berbanding lurus dengan dana yang diperoleh dari iklan.
Hal itu diungkapkan analis PT Investa Sarana Mandiri, Kiswoyo Adi Joe. Dia menuturkan, VIVA harus menelan kenyataan pahit mengalami kerugian. Namun, kata dia, mantan CEO VIVA Eric Thohir menampik kabar tersebut.
"Lisensi World Cup dari FIFA kan Rp 600 miliar sedangkan iklan yang masuk kurang dari Rp 100 miliar. Coba lihat iklan Piala Dunia sedikit, kemarin Erick Thohir bilang sudah menutupi iklan, tapi dilihat iklanya tidak sampai Rp 600 miliar, belum lagi dilihat dari rate waktunya cuma berapa menit saja," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Minggu (13/7).
Dia menyebutkan, minimnya kontribusi iklan sangat terlihat. Terutama jika dibandingkan dengan gelaran yang sama empat tahun lalu. "Coba bandingkan Piala Dunia 4 tahun lalui di televisi lain," jelas dia.
Analisanya, salah satu yang membuat iklan di penyiaran Piala Dunia kali ini minim adalah rendahnya kontribusi iklan rokok. Selama ini iklan utama penyiaran sepak bola di tanah air disumbang dari rokok. Namun setelah adanya Permenkes No 28 Tahun 2013 yang membatasi iklan, promosi, dan sponsorsip rokok di seluruh media cetak maupun elektronik, otomatis pendapatan iklan rokok jauh berkurang.
Salah satu batasan dalam aturan tersebut adalah tidak diperkenankan sponsorship dari perusahaan rokok untuk semua kegiatan, baik yang bersifat pendidikan, kesenian, olahraga, maupun kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Iklan bola itu utamanya dari Rokok. Djarum dulu berani bayar mahal, sekarang rokok tidak bisa pasang iklan seperti itu lagi karena peraturan dari pemerintah," papar dia.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kerugian dalam penyiaran Piala Dunia akan terlihat dalam laporan keuangan perusahaan semester satu tahun ini. Kinerja keuangan diprediksi anjlok. "Pasti akan hancur laporan keuangannya, tunggu saja," ungkapnya.
Kerugian penyiaran Piala Dunia pada akhirnya berperan signifikan membawa saham VIVA di zona merah. "Grup Viva itu keberatan utang, utangnya juga besar. Sama halnya dengan Bakrie," tutupnya.
Ketika dikonfirmasi, sekretaris perusahaan VIVA Neil Tobing belum memberikan respons. Telepon genggamnya tidak aktif.
Sebelumnya, Neil Tobing menegaskan bahwa penurunan saham merupakan hal yang biasa dalam perdagangan di BEI. "Kalau pergerakan harga saham, itu kan mekanisme pasar," katanya dalam pesan singkat pada merdeka.com, Jumat (11/7).
Dia mengatakan saat ini, perseroan lebih fokus untuk peningkatan fundamental VIVA. Hal ini dibuktikan dengan kinerja sangat solid dan pertumbuhan yang tertinggi di industri televisi.
"tvOne tertinggi ratingnya di industri mengalahkan tv entertainment. Kemarin juga begitu walaupun sedikit mengulas pilres. Masyarakat kita sudah pintar memilah apa yang mereka tonton," ujarnya.

No comments:

Paling banyak dibaca